Logika Berbicara

by Muhammad Firmansyah on Juni 21, 2021

“Corona itu tidak ada, itu hanyalah sebuah konspirasi dari para elite global” Pernah dengar perkataan tersebut ? Sebenarnya perkataan di atas tidak logis, mengapa ? karena perkataan di atas sangatlah tidak berdasar, tidak memiliki pondasi, tidak adanya bukti dan terdengar seperti bualan saja. Corona atau Covid-19 adalah virus yang memiliki ukuran yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, diperlukan alat tambahan untuk bisa melihat makhluk mungil ini. Corona itu ada akan tetapi kita tidak bisa melihatnya, tidak bisa melihat bukan berarti tidak ada. Bukti bahwa virus corona itu ada adalah dengan merajalelanya penyakit yang diakibatkan corona ini. Oleh karena itu, perkataan di atas terbukti hanyalah bualan semata. Menurut HR Institute dari bukunya yang berjudul Logical Thinking Know-How Do-How bahwasanya kita tidak akan menemukan bagian yang logis dari orang yang tidak logis dalam hal apapun. Nah, maka dari itu perkataan lanjutan dari “Corona itu tidak ada” tentunya akan muncul sesuatu yang tidak logis pula.

Agar dapat berbicara logis, diperlukan latihan rutin, tidak bisa dilakukan dengan SKS (Sistem Kebut Semalam). Dengan menerapkan 5 hal berikut dalam berbicara kita bisa merasakan perbedaan yang begitu besar :

1. Alasan

Di dalam setiap tindakan pastinya terdapat sebuah alasan. Bahkan, ketika kita membuka kulkas yang sebenarnya kita tau bahwa tidak ada apa-apa di dalam kulkas. Alasan kita melakukan tindakan tersebut adalah tidak lain dan tidak bukan yaitu untuk mencairkan rasa bosan. Dalam percakapan sehari-hari, biasanya kita tidak mencantumkan sebuah alasan. Hal ini dikarenakan kita tidak terbiasa berbicara secara logis.

Ketika mengemukakan sebuah pendapat beserta alasannya maka impact yang diberikan begitu besar dibandingkan dengan yang tidak menggunakan alasan. Sebagai contoh, ketika seorang mahasiswa yang ingin mengajukan sebuah judul skripsi kepada dosen pembimbingnya. Jika ia hanya berkata bahwa saya ingin memakai judul ini sebagai skripsi maka bisa jadi judul tersebut ditolak. Sangat berbeda ketika kita menyertakan alasannya juga.

“Bu, saya ingin memakai judul ini (pendapat). Judul ini saya ambil karena di masa pandemi ini, penting sekali untuk kita mengetahui keuntungan dari virus corona ini serta belum adanya penelitian yang berfokus di bidang ini (alasan).”

Dengan mengeluarkan pendapat beserta alasannya, maka dosen pembimbing pastinya tidak bisa berkata-kata lagi selain menyetujui judul skripsi yang diajukan.

2. Jangan Berlebihan

Hanya karena doi memberimu permen bukan berarti dia suka sama lu. Hanya karena doi memberimu sedikit perhatian bukan berarti dia cinta sama lu. Kita tidak boleh menyimpulkan sesuatu hanya karena satu atau dua kejadian saja. Menyimpulkan sesuatu hanya karena satu atau dua kejadian merupakan sesuatu yang berlebihan.

“Kamu bodoh, masa nilai MTK mu 37 sih ? anak tetangga ajj bisa dapet 97 lho !! Masa kamu gk bisa kayak dia sih ?! “

Dari sana tentunya kalian merasakan ketidakadilan bukan ? hanya karena nilai MTK saja yang jelek bukan berarti dirimu bodoh. Perkataan di atas memang tidak logis, terlalu berlebihan dan terjadi lompatan logika yang pada awal subjek yang Ia bicarakan adalah dirimu namun secara tiba-tiba Ia malah menarik subjek yang baru dan membandingkan kedua subjek yang tentunya hal tersebut tidaklah apple-to-apple.

3. Konsisten

Ketika berdebat terkadang kita mengeluarkan suatu pendapat dengan argumen yang lemah. Hal ini membuat kita malah membuat argumen baru yang jelas-jelas berbeda dengan argumen yang sebelumnya. Maka dari itu, hal tersebut perlu kita hindari dengan konsisten apa yang kita ucapkan dari awal.

4. Sederhana

Ungkapkan pendapat dengan kata-kata yang sederhana, yang memiliki kemudahan bagi orang lain untuk menangkap apa yang ingin disampaikan. Menggunakan peribahasa inggris, mandarin, atau jepang apabila lawan bicara kita tidak mengetahuinya, semua itu percuma saja. Point yang anda sampaikan malahan membuat lawan bicara kebingungan dan bisa kesulitan untuk memahami point-point selanjutnya yang anda sampaikan.

5. Stay Cool

Kita bisa melihat mbak Najwa dalam acara televisinya yang berjudul Mata Najwa, disana mbak Najwa tetap tenang walaupun terdapat banyak sekali gempuran pendapat. Lain halnya dengan lawan bicara mbak Najwa, terkadang mereka mengeluarkan perkataan-perkataan yang tidak penting disertai dengan hasrat ingin memenangkan argumen. Hal tersebut terjadi karena perbedaan pendapat dan perbedaan pendapat ini memang terkadang memunculkan hasrat jengkel. Kekesalan yang timbul ketika perbincangan tidaklah baik, karena memicu pembicaraan yang tidak logis.

References

Hyang, Oh Su. 2016. Bicara Itu Ada Seninya. Terjemahan oleh Asti Ningsih. Jakarta : Bhuana Ilmu Populer.